apple dan droid: mengubah ide menjadi HKI
This is the translation of an article printed in Jakarta Globe on Wednesday. The article can be found here. A slightly longer version of the article (with pictures) can be found here. I can't take credit for the translation. Zata Ligouw is responsible for this mighty feat.
Pada tahun 1270, Albertus Magnus, seorang tabib, astrolog, dan ahli seni hitam yang berasal dari Jerman, menciptakan robot berbentuk laki-laki. Dengan menggunakan pegas, tuas, dan roda, penemuannya diceritakan bisa bergerak dan berbicara. Dia menamakannya android. Saat ia menunjukan android itu kepada muridnya, Thomas Aquinas, Aquinas sangat ketakutan dan langsung menghancurkan robot tersebut serta menyebutnya sebagai “alat Setan dan penghinaan terhadap Tuhan”.
Istilah android tidak digunakan lagi sampai pada tahun 1860an, ketika muncul paten Amerika berkenaan dengan miniatur robot-robotan berbentuk manusia. Kemudian pada tahun 1977, sutradara film George Lucas memperkenalkan “Star Wars” droid C3PO dan R2D2 kepada dunia.
30 tahun kemudian perusahaan milik sutradara tersebut, Lucasfilm, menuai hasil dari pemikirannya yang mendahului jaman. Sebelum “Star Wars” dirilis, Lucasfilm telah mendaftarkan banyak mereknya, termasuk kata yang baru diciptakan: droid. Saat ini, merek tersebut terdaftar untuk begitu banyak barang, mulai dari mainan sampai ponsel, perangkat lunak komputer, MP3 player, laptop, PDA, kamera digital dan permainan konsol genggam seperti PSP dari Sony.
Ketika Motorola mengumumkan peluncuran ponsel terbarunya, the Droid, media langsung membuat asosiasi. “Inilah droid yang Anda cari”, tulis sebuah resensi, mengacu pada salah satu adegan dalam “Star Wars.”
Itulah kenapa Lucasfilm mau menempuh proses yang cukup panjang untuk melindungi kata penemuan George Lucas tersebut, karena mereka tahu bahwa konsumen akan menghubungkannya dengan “Star Wars” jika ada orang lain menggunakan kata “droid,” meskipun kata itu dipakai untuk sesuatu yang sangat berbeda, sebuah ponsel misalnya.
Motorola mengetahui hal tersebut. Jelas sekali sistem operasi teleponnya, Google Android, adalah alasan mengapa Motorola menamakan ponselnya Droid.
Motorola mengetahui hal tersebut. Jelas sekali sistem operasi teleponnya, Google Android, adalah alasan mengapa Motorola menamakan ponselnya Droid.
Hal ini tidak akan mungkin terjadi tanpa kesepakatan antara Lucasfilm dan Motorola. Dengan mendaftarkan mereknya, si pemilik merek memiliki hak eksklusif untuk menggunakan merek tersebut. Motorola tidak bisa menggunakan kata droid tanpa disetujui oleh Lucasfilm karena Lucasfilm memiliki pendaftaran merek yang juga meliputi ponsel. Dan itulah yang dilakukan oleh Motorola: meminta lisensi merek kepada Lucasfilm.
Saat bicara tentang membela mereknya, tidak ada yang lebih agresif daripada Apple. Raksasa teknologi ini telah melakukan langkah hukum untuk mencegah supermarket ritel Australia, Woolworths, menggunakan logo baru mereka yang dianggap terlalu mirip dengan logo merek Apple yang terkenal.
Apple harus meyakinkan kantor hak kekayaan intelektual Australia, IP Australia, bahwa logo Woolworths memiliki persamaan pada pokoknya dengan logo Apple sehingga tidak boleh didaftarkan sebagai merek. Meskipun demikian, Woolworths telah meminta IP Australia untuk mendaftarkan logo tersebut lebih dari sekedar layanan ritel, tapi juga bisnis utamanya. Woolworths akan memakai logo tersebut untuk barang-barang elektronik yang biasa ditemukan di supermarket, termasuk MP3 Player dan ponsel.
Apple khawatir hal di atas akan membingungkan konsumen. Meskipun rasanya tidak mungkin konsumen pada umumnya akan bingung antara Woolworths dan Apple karena yang satu adalah supermarket sedangkan yang satunya lagi menjual komputer, ponsel, dan MP3 Player.
Apple juga kini membuka ritel di Australia dengan toko-toko yang tersebar di Sydney, Melbourne dan Gold Coast.
Mudah dimengerti mengapa Apple melakukan semua ini yaitu untuk mengantisipasi hal-hal yang tak terduga.
Penting sekali untuk memikirkan tentang potensi komersil atas hak kekayaan intelektual Anda, meskipun potensi itu mungkin tidak akan selalu langsung terlihat. Sedikit kecerdasan komersil akan mengubah ide menjadi keunggulan yang kompetitif. Mengelola aset-aset kekayaan intelektual dengan efektif akan membantu perusahaan menjaga keunggulan kompetitifnya.
Itulah dua contoh bagaimana ide-ide yang sederhana bisa menjadi keunggulan komersil yang besar. Setiap orang bisa mempunyai ide. Pastikan bahwa orang lain tidak memiliki ide Anda.
Posted by Brett McGuire


